Internet Indonesia Terancam Kacau: Komdigi Disebut Salah Sasaran Soal Cloudflare!
Kebijakan Blokir
Cloudflare: Langkah Komdigi Dinilai Tidak Presisi dan Berpotensi Menyerupai
“Amatiran”
Gresiknews.id —
Rencana Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk memutus akses
Cloudflare demi memberantas situs judi online (judol) kembali menuai kritik.
Bukan hanya karena kebijakan tersebut berpotensi mengganggu ribuan situs legal,
tetapi juga karena sejumlah analis menilai langkah itu menunjukkan ketidakpresisian pemetaan masalah di
tubuh Komdigi.
Pengamat keamanan siber ITSEC Asia, Afif Hidayatullah,
sebelumnya menegaskan bahwa akar masalah terletak pada domain judi ilegal, bukan pada penyedia infrastruktur seperti
Cloudflare. Penilaian ini diamini banyak pelaku industri digital yang menyorot
langkah pemerintah sebagai keputusan yang “kurang memahami cara kerja internet
modern”.
Kesalahan Diagnosa
Masalah: Infrastruktur Disalahkan, Konten Terlewat
Komdigi menilai Cloudflare perlu diblokir karena belum
memenuhi kewajiban administratif PSE. Namun ancaman tersebut dikaitkan dengan
upaya memberantas judi online, membuat kebijakan terlihat tidak tepat sasaran.
Dalam konteks infrastruktur internet, Cloudflare:
- bukan
pengelola konten,
- tidak
mengoperasikan situs judi,
- hanya
menyediakan layanan CDN, keamanan, dan proxy,
- menjadi
backbone bagi jutaan situs legal, termasuk UMKM, media, sekolah, dan
bisnis.
Membidik Cloudflare untuk menghentikan judol diibaratkan memadamkan listrik satu kota untuk
mematikan satu rumah yang menyalahi aturan. Persepsi publik pun berkembang
bahwa langkah Komdigi cenderung tergesa-gesa dan minim pemahaman fundamental
mengenai arsitektur internet.
Minimnya Assessment
Risiko dan Dampak
Di negara-negara dengan kebijakan digital matang seperti
Singapura, Jepang, atau Uni Eropa, keputusan pemutusan akses infrastruktur
besar selalu melalui:
- analisis
dampak,
- risk
assessment,
- konsultasi
dengan pakar,
- simulasi
teknis,
- pembahasan
dengan ISP.
Pada kasus Cloudflare, proses tersebut tampak tidak
terlihat. Kebijakan diumumkan terbuka tanpa pemetaan dampak terhadap:
- website
pemerintah,
- layanan
publik,
- sistem
edukasi,
- platform
transaksi online.
Langkah yang tidak melalui kajian teknis ini memunculkan
kesan kebijakan digital yang reaktif,
bukan strategis.
Solusi yang Lebih
Tepat Menurut Pengamat
Afif Hidayatullah menilai pemberantasan judi online dapat
dilakukan tanpa mengorbankan stabilitas internet nasional. Ia mengusulkan
langkah-langkah berikut:
1. Fokus pada domain,
bukan infrastruktur
Pemblokiran domain ilegal lebih efektif daripada memutus
layanan CDN.
2. Membuat mekanisme
komunikasi cepat dengan Cloudflare
Cloudflare bisa men-take-down domain dalam hitungan jam jika
ada permintaan resmi dan bukti hukum.
3. Deteksi otomatis
domain “hit-and-run”
Karena situs judi sering berganti alamat, sistem deteksi
berbasis AI/otomasi harus ditingkatkan.
4. Melibatkan ISP
lokal
Pemblokiran bisa dilakukan melalui DNS/HTTP filtering untuk
domain spesifik tanpa mengganggu situs lain.
5. Menjaga ekosistem
internet nasional
Menargetkan infrastruktur besar dapat menyebabkan gangguan
luas yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
Pendaftaran PSE Tidak
Akan Menghentikan Judi Online
Komdigi berpegang pada aturan PSE 5/2020 untuk mendesak
Cloudflare melakukan registrasi. Namun menurut para analis, kebijakan ini hanya administratif dan tidak relevan
dengan pemberantasan situs ilegal.
Situs judi dapat membuat domain baru dalam hitungan menit,
mendaftar ulang, lalu tetap menggunakan layanan Cloudflare. Artinya,
pendaftaran PSE tidak menghentikan apa pun, karena Cloudflare tidak punya kendali atas konten pengguna.
Apakah Kebijakan Ini
Terlihat Amatiran?
Sejumlah analis menyebut keputusan Komdigi terkesan
seperti itu—bukan karena ketidakmampuan, tetapi karena:
- pemetaan
masalah yang meleset,
- pendekatan
teknis yang tidak presisi,
- minimnya
kolaborasi dengan pakar,
- penggunaan
cara lama untuk masalah baru,
- serta
fokus pada aspek administratif, bukan teknis.
Dalam ekosistem digital modern, kebijakan berbasis logika
"blokir besar-besaran" tanpa pemetaan risiko menghadirkan dampak luas
yang jauh melampaui target masalah.
Menunggu Sikap Final
Komdigi
Komdigi memberi waktu 14 hari bagi Cloudflare untuk memenuhi
kewajiban PSE. Bila tenggat terlewat, pemutusan akses dapat diberlakukan.
Namun, dengan kritik dari pengamat dan industri, masyarakat
kini menunggu apakah kebijakan ini akan direvisi menjadi lebih presisi, berbasis data, dan minim dampak, atau tetap
dijalankan apa adanya.
.jpg)