Disharmoni Negara dan Erupsi Semeru: Resonansi Kosmik dari Luka Sosial
Dalam tradisi filsafat Timur, khususnya dalam kosmologi
Jawa, alam tidak pernah dipandang sebagai benda mati. Ia adalah makhluk besar,
“makrokosmos,” yang selalu beresonansi dengan manusia sebagai “mikrokosmos.”
Ketika masyarakat mengalami ketidakadilan, kekacauan moral, atau kerusakan
tatanan, alam sering dipahami sebagai ikut “berbicara” — bahkan “menjerit.”
Erupsi Semeru pada 20 November 2025 bukan hanya gejala
geologis. Dalam cara pandang filosofis dan simbolik, ia adalah gema kosmik dari ketidakadilan sosial yang
mengental di negeri ini.
1. Ketidakadilan
Sosial Sebagai Ketidakseimbangan Kosmik
Negara yang timpang, hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke
atas, korupsi yang merajalela, penindasan struktural, dan eksploitasi
lingkungan menciptakan getaran ketidakharmonisan yang sangat kuat. Menurut
filsafat Jawa dan Sufi:
Ketidakadilan manusia
menciptakan disharmoni kosmik.
Alam, sebagai organisme besar, tidak diam. Ia merespons. Ia
mengembalikan energi kacau itu melalui fenomena alam: banjir, gempa, badai,
hingga letusan gunung.
Di titik ini, erupsi Semeru dapat dimaknai sebagai bentuk “protes diam” alam terhadap:
- kerakusan
elite,
- ketidakadilan
hukum,
- eksploitasi
sumber daya tanpa moralitas,
- dan
ketidakpedulian pada keseimbangan ekologis.
Ketika manusia kehilangan keadilan, alam kehilangan
keseimbangannya.
2. Kezaliman Manusia
Melahirkan “Zulumat” Alam
Dalam teologi, kezaliman (tidak menempatkan sesuatu pada
tempatnya) melahirkan zulumat — kegelapan. Kegelapan bukan hanya
metafora; ia adalah energi negatif yang menekan struktur kosmik.
Zulumat sosial → Zulumat ekologis →
Letusan yang memuntahkan kegelapan ke
langit.
Awan abu Semeru, yang menutupi langit Jawa, dapat dibaca
sebagai wujud fisik dari kegelapan sosial yang selama ini disangga bumi. Ketika
bumi tak sanggup menahan luka sosial manusia, ia meledak.
3. Letusan Semeru
Sebagai Kritik Alam terhadap Negara
Secara simbolik, Semeru adalah “pusat dunia”—axis mundi.
Jika pusat itu meletus, itu signifikan secara spiritual.
Letusan ini dapat dibaca sebagai:
a. Kritik alam
terhadap ketimpangan
Ketidakadilan melahirkan penderitaan. Alam mengembalikan
penderitaan itu dalam bentuk bencana agar manusia tersadar bahwa neraka dunia
sedang mereka ciptakan sendiri.
b. Teguran atas
kebijakan negara yang merusak lingkungan
Izin tambang liar, pembukaan hutan, dan korporasi yang
merusak tanah Jawa menciptakan luka geologis yang dalam. Luka itu akhirnya
meledak.
c. Alarm moral
Seakan-akan Semeru berkata:
“Jika manusia tak lagi adil, alam pun tak bisa lagi ramah.”
4. Semeru Mewakili
Rintihan Kaum Tertindas
Dalam pembacaan sosial, mereka yang paling menderita akibat
erupsi adalah:
- masyarakat
miskin di lereng gunung,
- petani,
- buruh
desa,
- pendaki
yang bergantung pada wisata lokal,
- mereka
yang tidak punya kuasa.
Simbolnya jelas: ketidakadilan
selalu jatuh paling berat pada yang paling lemah.
Erupsi ini secara filosofis mengingatkan bahwa ketidakadilan
negara bukan sekadar catatan statistik; ia punya dampak real pada tubuh bumi
dan tubuh rakyat.
5. Erupsi sebagai
Cermin Kerapuhan Tatanan Moral Nasional
Dalam mistisisme, ketika sebuah bangsa rusak secara moral,
alam di wilayah itu biasanya menunjukkan gejolak:
- amarah,
- ketidakstabilan,
- ketidakteraturan.
Erupsi Semeru bukan tindakan alam semata, melainkan refleksi kacau dari mentalitas sosial yang
retak.
Semeru yang biasanya tegar kini memuntahkan api — sama
seperti rakyat yang menahan amarah atas ketidakadilan struktural.
6. Kesimpulan: Erupsi
Semeru adalah Teguran, Bukan Hanya Bencana
Secara filosofis:
- Negara yang tidak adil melahirkan alam
yang tidak harmonis.
- Kezaliman sosial beresonansi menjadi
kekacauan ekologis.
- Erupsi adalah manifestasi kosmik dari
luka moral bangsa.
Semeru bukan hanya gunung; ia adalah penafsir senyap dari
jiwa bangsa. Dan ketika ia meletus, mungkin itu berarti:
“Ada yang salah di
negeri ini, ada yang sangat tidak adil.”
