Banjir Sumatera: Krisis Ekologis Akibat Deforestasi Masif


Banjir Sumatera: Krisis Ekologis Akibat Deforestasi Masif

Jakarta – Rentetan banjir bandang dan longsor yang melanda Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 bukan sekadar fenomena alam. Para ahli menegaskan bencana ini adalah krisis ekologis yang dipicu oleh deforestasi dan rusaknya lingkungan (Kompas.com).

Indonesia Peringkat Kedua Deforestasi Dunia

Data World Population Review 2024 menunjukkan Indonesia menempati peringkat kedua negara dengan deforestasi terparah secara global. Dalam periode 1990–2020, Indonesia kehilangan 101.977 mil persegi hutan atau 22,28 persen dari total luas hutan. Angka ini hanya kalah dari Brasil yang kehilangan 356.787 mil persegi hutan.

Dampak Hidrometeorologi

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor dipicu oleh kondisi cuaca ekstrem. Namun, kerusakan hutan memperparah dampaknya. Dosen Teknik Geologi UGM, Prof. Wahyu Wilopo, menegaskan curah hujan tinggi yang dipengaruhi perubahan iklim global semakin berbahaya ketika hutan di hulu sudah gundul.

Kasus Batang Toru

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumut menyoroti ekosistem Batang Toru yang mengalami deforestasi signifikan. Dari total 250.000 hektare, sekitar 30 persen hilang dalam lima tahun terakhir akibat industri ekstraktif. Kondisi ini memperbesar risiko banjir bandang di Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Kota Sibolga.

Kesimpulan

Banjir di Sumatera bukan sekadar akibat hujan deras, melainkan hasil dari deforestasi masif yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kerusakan hutan terparah di dunia. Tanpa penegakan hukum dan restorasi hutan, bencana ekologis serupa hanya tinggal menunggu waktu untuk kembali terjadi.

Next Post Previous Post