Melampaui Destinasi Tunggal: Rekonseptualisasi Diplomasi Pariwisata Berkelanjutan dan Wisata Medis Indonesia–Korea Selatan
Melampaui Destinasi Tunggal: Rekonseptualisasi Diplomasi Pariwisata Berkelanjutan dan Wisata Medis Indonesia–Korea Selatan
Pariwisata
adalah pilar fundamental perekonomian jasa yang menyentuh langsung denyut
kesejahteraan masyarakat di tingkat akar rumput. Selama beberapa dekade, relasi
pariwisata antara Indonesia dan Korea Selatan memperlihatkan volume pergerakan
manusia yang signifikan. Turis asal Korea Selatan merupakan salah satu
kontributor wisatawan mancanegara (wisman) papan atas di Indonesia, sementara
Seoul, Pulau Jeju, dan Busan menjadi destinasi favorit pelancong Indonesia.
Namun, telaah
kritis atas arsitektur pariwisata kedua negara memperlihatkan dua kelemahan
struktural. Pertama, ketimpangan sebaran geografis: arus wisman Korea ke
Indonesia terkonsentrasi sangat masif di Pulau Bali (lebih dari 80%), sementara
destinasi pariwisata prioritas lainnya masih minim kunjungan. Kedua, kerja sama
pariwisata masih berfokus pada wisata liburan konvensional (leisure tourism),
belum merambah ke segmen pariwisata bernilai tambah tinggi seperti pariwisata
medis (medical tourism), wisata kebugaran (wellness tourism),
serta wisata konvensi dan pameran internasional (MICE).
Peningkatan
status hubungan menjadi Special Comprehensive Strategic Partnership
(SCSP) pasca-kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Seoul harus dimanfaatkan
sebagai platform untuk meredesain peta jalan pariwisata bilateral yang lebih
terintegrasi, bernilai tambah tinggi, dan berwawasan lingkungan.
Diversifikasi Destinasi Melalui "Beyond Bali
Connectivity"
Pemerintah
Indonesia telah menetapkan Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP), seperti
Labuan Bajo, Danau Toba, Borobudur, Likupang, dan Mandalika. Tantangan utama
bagi turis Korea untuk mengunjungi destinasi-destinasi ini adalah ketiadaan
konektivitas penerbangan langsung (direct flights) serta minimnya
ketersediaan informasi promosi wisata yang sesuai dengan preferensi wisatawan
Korea.
Karakteristik
pelancong Korea Selatan sangat menyukai aktivitas petualangan luar ruang (outdoor
trekking), olahraga golf, wisata bahari selam (diving), dan
pengalaman kuliner otentik. Di bawah payung SCSP, Kementerian Pariwisata RI
bersama Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, dan Transportasi Korea (MOLIT)
perlu merumuskan paket deregulasi hak angkut udara (bilateral air services
liberalization).
Langkah konkret
yang harus dieksekusi:
- Pembukaan rute penerbangan sewa (charter
flights) dan penerbangan langsung berjadwal dari Incheon dan Gimhae
menuju hub regional Indonesia, seperti Manado (gerbang Likupang dan
Bunaken), Medan/Silangit (Danau Toba), dan Praya (Lombok/Mandalika), yang
dioperasikan bersama oleh maskapai nasional kedua negara.
- Penyelarasan promosi digital terpadu
melalui kerja sama antara Korea Tourism Organization (KTO) dan
platform Wonderful Indonesia, dengan memanfaatkan ekosistem digital
populer di Korea seperti Naver dan KakaoTalk untuk memetakan ulasan
atraksi wisata lokal Indonesia secara akurat dan berbahasa Korea.
Pengembangan Ekosistem Wisata Medis di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
Korea
Selatan diakui secara global sebagai episentrum wisata medis dunia, khususnya
dalam bidang bedah plastik rekonstruktif, dermatologi estetika, transplantasi
sel induk (stem cell), serta perawatan kanker berpresisi tinggi. Setiap
tahunnya, puluhan ribu warga Indonesia berobat ke luar negeri dengan devisa
yang keluar mencapai triliunan rupiah.
Melalui
kemitraan SCSP, Indonesia dapat mengubah dinamika ini menjadi peluang
industrialisasi layanan kesehatan dalam negeri. Pembentukan Kawasan Ekonomi
Khusus (KEK) Kesehatan di Sanur, Bali, dan KEK Kesehatan di BSD menjadi lokasi
strategis bagi kemitraan investasi rumah sakit Korea Selatan (seperti Seoul
National University Hospital atau Asan Medical Center).
Model
kerja sama ini bukan sekadar mengizinkan dokter spesialis Korea berpraktik di
zona KEK, melainkan mewajibkan transfer keahlian medis klinis dan manajemen
rumah sakit modern kepada dokter dan perawat Indonesia. Dengan hadirnya pusat
layanan kesehatan berstandar Korea di dalam negeri, Indonesia tidak hanya dapat
menahan arus devisa kesehatan ke luar negeri, tetapi juga menarik pasien dari
kawasan regional Asia Tenggara dan Oseania untuk berobat ke Bali seraya
menikmati pemulihan di fasilitas wisata kebugaran (wellness retreat)
berbasis herbal Nusantara.
Pariwisata Regeneratif dan Dekarbonisasi Sektor Perhotelan
Pariwisata
masa depan menuntut kepatuhan terhadap prinsip keberlanjutan. Arus over-turisme
(overtourism) di destinasi populer berisiko merusak daya dukung
lingkungan (carrying capacity), menghasilkan gunungan sampah plastik,
dan merusak terumbu karang.
Kerangka
SCSP harus menginisiasi program percontohan Bilateral Regenerative Tourism
Standard. Korea Selatan memiliki keunggulan teknologi dalam sistem
pengolahan limbah mandiri (zero-waste hotel systems) dan bangunan
perhotelan hemat energi berstandar hijau.
Konsorsium
pariwisata kedua negara dapat menerapkan teknologi pemurnian air daur ulang,
sensor pintar penghemat listrik tenaga surya, serta sistem manajemen sampah
pesisir terintegrasi di kawasan cagar wisata pulau-pulau kecil (seperti di
Kepulauan Komodo dan Kepulauan Seribu). Di saat yang sama, masyarakat adat
lokal pesisir diberdayakan sebagai pemandu wisata ekologis (eco-tour guide)
bersertifikat, memastikan bahwa setiap rupiah belanja wisatawan mancanegara
mengalir langsung ke penguatan ekonomi komunitas lokal.
Pariwisata
dalam bingkai Kemitraan Komprehensif Khusus adalah instrumen diplomasi
antar-manusia (people-to-people contact) yang paling nyata. Dengan
menyatukan keindahan alam dan keramahan budaya Indonesia bersama keunggulan
teknologi konektivitas dan manajemen kesehatan Korea Selatan, kedua negara
dapat membangun model pariwisata baru yang berkelanjutan, menyejahterakan, dan
berdaya saing global menuju 2045.
Catatan Kaki / Rujukan:
- Korea Tourism Organization (KTO). (2025). Outbound
Tourism Survey and Behavioral Patterns of Korean Travelers in Southeast
Asian Markets. Wonju: KTO.
- Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.
(2025). Rencana Strategis Pemasaran Pariwisata Mancanegara:
Diversifikasi Pasar Menuju Destinasi Super Prioritas. Jakarta.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
(2024). Peta Jalan Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pelayanan
Kesehatan dan Wisata Kebugaran Nasional. Jakarta.
- World Tourism Organization (UN Tourism).
(2024). Policy Guidance on Regenerative Tourism and Medical Travel
Ecosystems in the Asia-Pacific Region. Madrid.
ARTIKEL 9: SUBTEMA GAGASAN BARU UNTUK PENGUATAN HUBUNGAN
INDONESIA–KOREA SELATAN MENUJU 2045
Judul:
Arsitektur Penyeimbang Multipolar: Menginisiasi Poros Kekuatan
Menengah (M4) Menuju Orde Indo-Pasifik 2045
Tahun
2045 adalah titik temu historis bagi dua bangsa: Republik Indonesia merayakan
satu abad kemerdekaannya dengan visi menjadi negara maju berkekuatan ekonomi
lima besar dunia (Indonesia Emas 2045), sementara Republik Korea merayakan satu
abad pembebasan nasionalnya dengan ambisi memantapkan status sebagai negara
poros global (Global Pivotal State/GPS). Namun, jalan menuju visi besar
tersebut dihadapkan pada satu tantangan eksistensial yang sama: memburuknya
arsitektur keamanan global akibat rivalitas hegemoni tanpa kompromi antara
Amerika Serikat dan Republik Rakyat Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik.
Sebagai
negara berdaulat, Indonesia terikat pada doktrin politik luar negeri
bebas-aktif yang menolak terseret dalam pakta pertahanan militer eksklusif mana
pun. Di sisi lain, Korea Selatan, meskipun terikat aliansi keamanan formal
dengan Washington, menghadapi dilema struktural akibat keterikatan kedekatan
ekonomi dan geografis dengan Beijing. Peningkatan status bilateral menjadi Special
Comprehensive Strategic Partnership (SCSP) pasca-kunjungan Presiden Prabowo
Subianto ke Seoul harus dimanfaatkan untuk melahirkan gagasan revolusioner di
luar kotak diplomasi konvensional (out of the box): Membangun Poros Kekuatan Menengah (Middle-Power Minilateralism) sebagai
Penyeimbang Orde Kawasan Menuju 2045.
Inisiatif Forum "M4" (Indonesia, Korea Selatan,
Australia, dan India)
Selama
ini, arsitektur kawasan diwarnai oleh pembentukan aliansi militer sempit
bercorak tandingan, seperti AUKUS dan perluasan kerja sama Quad, yang
memicu kekhawatiran terjadinya perlombaan senjata dan fragmentasi ASEAN. Di
sisi lain, forum multilateral besar kerap kali lamban menghasilkan keputusan
taktis karena prinsip konsensus mutlak.
Gagasan
baru yang perlu diinisiasi oleh Jakarta dan Seoul di bawah payung SCSP adalah
membidani lahirnya forum konsultasi strategis minilateral berkekuatan menengah:
The Middle Powers Quartet (M4) yang
merangkul Indonesia, Korea Selatan, Australia, dan India.
Karakteristik
forum M4 berbeda secara fundamental dari aliansi militer tradisional:
- Bukan
Pakta Pertahanan Agresif: M4 didesain sebagai platform koordinasi
stabilitas kawasan (strategic hedging and de-escalation mechanism),
yang berfokus pada pencegahan konflik (conflict prevention),
kebebasan navigasi laut berbasis Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS 1982),
dan netralitas jalur pelayaran pasokan energi.
- Kekuatan
Penekan Diplomatik: Ketika tensi di Selat Taiwan atau Laut
Natuna Utara memanas, forum M4 bertindak sebagai penengah rasional (honest
broker) yang mengeluarkan posisi diplomatik bersama, menolak hegemoni
sepihak, dan mendesak de-eskalasi kekuatan besar melalui saluran hukum
internasional.
- Penyelarasan
AI Terbuka dan Keamanan Siber: M4 membentuk kerangka tata kelola
kecerdasan artifisial dan rantai pasok teknologi yang inklusif, mencegah
duopoli standar teknologi antara blok Barat dan Timur yang dapat
mengisolasi negara-negara berkembang.
Pembentukan "Indonesia–Korea Bilateral Sovereign Wealth and
Innovation Fund"
Tantangan
kedua menuju 2045 adalah mobilisasi modal pembangunan jangka panjang yang
mandiri dari tekanan utang bersyarat politik. Indonesia memiliki Indonesia
Investment Authority (INA), sementara Korea Selatan memiliki dana investasi
kekayaan negara terkemuka, seperti Korea Investment Corporation (KIC)
dan National Pension Service (NPS) yang mengelola aset ratusan miliar
dolar AS.
Gagasan
konkret berikutnya adalah pembentukan wahana investasi bersama: The Korea–Indonesia Strategic Future Fund
(KISFF) dengan target komitmen modal awal US$ 5 miliar melalui skema
pembiayaan ekuitas bersama (co-equity investment).
Dana abadi
bilateral ini diarahkan secara spesifik untuk membiayai proyek-proyek peradaban
masa depan kedua negara yang memiliki tingkat keekonomian strategis tinggi:
- Pembangunan
Infrastruktur Digital IKN dan Smart Cities: Mendanai
jaringan kabel optik bawah laut mandiri yang menghubungkan Jakarta, Ibu
Kota Nusantara (IKN), dan Busan, guna memutus ketergantungan transit data
pada simpul pihak ketiga.
- Pabrik
Rekayasa Biogenetik Tropis: Mendanai konsorsium riset farmasi untuk
memproduksi vaksin mRNA mandiri dan terapi genomik bagi penyakit tropis
yang kerap diabaikan oleh industri farmasi transnasional Barat.
- Penguasaan
Satelit Konstelasi Rendah (LEO Satellites): Mendanai
peluncuran konstelasi satelit orbit rendah buatan bersama PT LAPAN/BRIN
dan Korea Aerospace Research Institute (KARI) untuk menjamin kemandirian
konektivitas internet broadband dan mitigasi bencana alam di seluruh
kepulauan Nusantara.
Pendirian Dewan Pemuda Masa Depan Bilateral Menuju 2045 (Future
Leaders Council)
Diplomasi
antar-negara kerap kali rapuh jika hanya diikat oleh dokumen perjanjian elite
yang rentan berubah ketika terjadi pergantian rezim pemerintahan. Keberlanjutan
kemitraan hingga tahun 2045 menuntut pelembagaan peran generasi penerus (successor
generation).
Kerangka
SCSP harus meresmikan pendirian Indonesia–Korea
2045 Youth Council. Dewan ini beranggotakan para pemimpin muda terpilih
dari kalangan akademisi, peneliti teknologi, wirausahawan rintisan digital (start-up
founders), jurnalis investigasi, dan aktivis kebijakan publik dari kedua
negara.
Dewan
ini memiliki mandat formal untuk menyerahkan dokumen White Paper Rekomendasi
Masa Depan secara tahunan langsung kepada Presiden Republik Indonesia dan
Presiden Republik Korea pada setiap KTT Bilateral. Dengan melembagakan suara
generasi muda, kemitraan strategis kedua negara akan memiliki imunitas terhadap
fluktuasi geopolitik jangka pendek, karena dipandu oleh visi jangka panjang
yang dimiliki bersama oleh para arsitek masa depan bangsanya.
Menatap tahun 2045, Indonesia dan Republik Korea ditakdirkan untuk menjadi pilar penopang stabilitas peradaban dunia. Ketika kekuatan ekonomi, kelenturan diplomasi, keteguhan prinsip kemerdekaan, dan supremasi teknologi kedua bangsa disatukan dalam sebuah visi arsitektur kawasan yang inklusif, Jakarta dan Seoul tidak sekadar mempertahankan kedaulatannya di tengah badai geopolitik, melainkan memimpin penataan kembali tata dunia baru yang lebih adil, damai, dan makmur bagi seluruh umat manusia.
Rachmad Rofik. Mahasiswa S1 Ilmu Politik. Universitas Sunan Gresik
Rujukan:
- Ministry of Foreign Affairs of the
Republic of Korea (MOFA). (2024). Strategy for a Free, Peaceful, and
Prosperous Indo-Pacific Region: Expanding Minilateral Partnerships with
Middle Powers. Seoul.
- Kementerian Luar Negeri Republik
Indonesia. (2024). Orientasi Politik Luar Negeri Bebas-Aktif Menghadapi
Polarisasi Geopolitik Kawasan dan Penguatan Peran Kepemimpinan Indonesia.
Jakarta: Kemlu RI.
- Center for Strategic and International
Studies (CSIS). (2025). Middle-Power Coalition in the Indo-Pacific:
Institutionalizing Minilateral Cooperation Between ASEAN and Northeast
Asia. Jakarta.
- Indonesia Investment Authority (INA) &
Korea Investment Corporation (KIC). (2025). Joint Bilateral Investment
Outlook on Strategic Infrastructure, Digital Connectivity, and High-Tech
Innovation. Jakarta/Seoul.
