Jebakan Slacktivism: Ketika Kemacetan Jalanan di Infogresik Hanya Berhenti di Kolom Komentar

 


Ruang digital lokal hari ini dipenuhi oleh luapan keluhan warga. Akun Instagram @infogresik kerap menjadi etalase utama tempat bertumpuknya frustrasi publik atas kemacetan lalu lintas, mulai dari kawasan industri Pantura, simpang Gresik kota, hingga akses mobilitas harian yang kian padat. Namun, di balik riuhnya ribuan likes, shares, dan komentar bernada protes, muncul pertanyaan sosiologis yang mendasar: sejauh mana aktivitas jempol ini beranjak menjadi instrumen perubahan kebijakan nyata, ataukah ia hanya berhenti sebagai slacktivism (aktivisme malas) yang sekadar meredakan amarah tanpa mengubah struktur masalah?

Fenomena ini mencerminkan apa yang oleh para sosiolog disebut sebagai feel-good activism. Individu merasa telah berkontribusi secara sosial hanya dengan meninggalkan jejak digital berupa komentar tajam atau menyebarkan video kemacetan. Aksi partisipatif ini memang berhasil membangun kesadaran kolektif semu bahwa ada masalah sistemik yang mendesak. Sayangnya, efikasi kolektif tersebut sering kali menguap begitu layar ponsel dimatikan. Algoritma media sosial mendesain kemarahan publik menjadi komoditas atensi, bukan tekanan politik yang terorganisir di ruang-ruang kebijakan publik.

Dalam lanskap sosiologi politik dan administrasi publik, diskursus kebijakan tidak lahir dari ruang hampa komentar media sosial semata, melainkan dari artikulasi kepentingan yang terlembagakan. Ketika kritik atas kemacetan jalanan di Gresik terkunci dalam siklus slacktivism digital, para pembuat kebijakan (policy makers) cenderung menggunakan respons simbolik—seperti tanggapan normatif di kolom komentar atau seremoni peninjauan lapangan sesaat—tanpa ada keharusan merevisi tata ruang, menegakkan regulasi tonase kendaraan industri, atau memperkuat infrastruktur transportasi massal secara radikal.

Dampak buruk dari jebakan ini adalah terjadinya exhaustion of outrage atau kelelahan kemarahan publik. Masyarakat lama-kelamaan menjadi mati rasa terhadap masalah yang sama karena setiap hari disuguhi visual kemacetan yang berulang tanpa ada resolusi konkret. Pengambil kebijakan pun diuntungkan oleh kelelahan ini, karena gelombang protes maya pada akhirnya akan reda dengan sendirinya digantikan oleh isu viral yang baru.

Oleh karena itu, sudah saatnya energi kolektif di ruang digital bertransformasi dari sekadar reaktivitas emosional menuju advokasi kebijakan berbasis data dan pengawalan institusional. Tanpa perpindahan fokus dari layar ponsel ke meja perundingan kebijakan formal dan audiensi publik yang terstruktur, kemacetan jalanan di Gresik hanya akan terus menjadi konten harian yang melanggengkan status quo.

Daftar Pustaka

Christensen, C. (2011). Twitterore: Mobilisation through Twitter in the 2009 election protests in Iran. Media, Culture & Society, 33(3), 483-494.

Morozov, E. (2011). The Net Delusion: The Dark Side of Internet Freedom. PublicAffairs.

Gladwell, M. (2010, October 4). Small change: Why the revolution will not be tweeted. The New Yorker.

 

Next Post Previous Post
Advertorial
Mulai Trading & Investasi Bersama Headway
Daftar gratis · Akun demo tersedia · Regulated broker
Daftar Sekarang
AI Trading Platform
JDA.my.id — Solusi Trading Nyaman dengan AI
Analisis cerdas · Sinyal otomatis · Hanya untuk trader serius
Cek Portofolio