Tuntut Kenaikan UMK 2027, Sekber Gresik Unjuk Rasa ke Pemkab Gresik
![]() |
| Kegiatan unjuk rasa Sekber Gresik di Halaman Kantor Pemkab Gresik untuk menuntut kenaikan UMK 2027, Kamis, 8 Oktober 2026. |
GRESIKNEWS.ID – Serikat buruh bersama (Sekber)
Kabupaten Gresik unjuk rasa ke Kantor Pemkab Gresik, Jalan Dr. Wahidin
Sudirohusodo, Kecamatan Kebomas, Kamis, 8 Oktober 2026. Masa menuntut kelayakan
Upah Minimum Kota (UMK) dan pelayanan kesehatan yang maksimal dari BPJS
Kesehatan,.
Dalam mediasi dengan Bupati dan DPRD Gresik serta Badan
Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Gresik dan BPJS Kesehatan masa kecewa, karena
pertumbuhan ekonomi Kabupaten Gresik menunjukkan lebih rendah dari Kabupaten atau
Kota dan sekitar.
Ratusan masa Sekber Gresik datang ke kantor Pemkab
Gresik dengan membawa pengeras suara, sehingga menjadi perhatian masyarakat dan
Pemerintah Kabupaten Gresik. Sehingga, masa yang sempat tertahan di depan pintu
gerbang, akhirnya diperbolehkan masuk ke halaman Kantor Pemkab Gresik dan
dimediasi di dalam gedung Pemkab oleh Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani bersama
DPRD Gresik Komisi IV serta BPS Gresik.
Mediasi menghasilkan kesepakatan bersama antara Bupati
Gresik, DPRD Gresik, BPS dan BPJS Kesehatan Kabupaten Gresik dengan Aliansi
Sekber Gresik. “Hasil mediasi dan audiensi akan dibacakan Ketua Komisi IV,”
kata Bupati Yani.
Mediasi tersebut diantaranya, Sahkan Undang-undang
perlindungan ketenagakerjaan yang mensejahterakan kaum buruh; Pemerintah
Kabupaten Gresik untuk mendukung pelaksanaan Undang-undang ketenagakerjaan.
Selain itu, Penegakan hukum ketenagakerjaan di
Kabupaten Gresik menjadi prioritas; Diharapkan semua unsur terbuka baik melalui
tim unit reaksi cepat (URC) maupun Desk ketenagakerjaan Polres Gresik; Tetapkan
Upah Minimum Kabupaten Gresik tahun 2027 sebesar 10 persen dari UMK tahun 2026.
Kemudian, dalam menetapkan UMK, Pemerintah Kabupaten
Gresik menunggu pelaksanaan penetapan UMK yang akan dikeluarkan oleh
Kementerian Ketenagakerjaan; Tingkatkan pelayanan BPJS Kesehatan pada mutu
pelayanan dan kemudahan akses tanpa diskriminatif serta jaminan kecukupan
kartu.
Hasil mediasi lainnya yaitu Memerintahkan Dinas
Kesehatan Kabupaten Gresik dan BPJS Kesehatan Kabupaten Gresik untuk memetakan
domisili para pekerja; Fasilitas Kesehatan (Faskes) harus mengutamakan
pelayanan dan tidak ragu untuk menindak bagi Faskes yang nakal; Cabut izin
Perusahaan alih daya atau outsourcing yang tidak melaksanakan hak – hak
normatif pekerja dan laporkan kepada Pemerintah Kabupaten Gresik untuk dicabut
izinnya.
Selain itu, BPS Kabupaten Gresik mengevaluasi terkait
nilai pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Gresik sesuai fakta yang ada; BPS
Kabupaten Gresik agar mengevaluasi dan hati-hati serta lebih teliti dalam
menggali data dalam menunjang pertumbuhan ekonomi; Bentuk tim lanjutan dengan
melibatkan Pemerintah Kabupaten dan serikat pekerja; Hapus pajak-pajak pekerja
atau buruh dengan mengacu pada kebijakan Pemerintah Pusat.
Atas hasil mediasi tersebut, Koordinator Sekber
Gresik, Agus Salim mengatakan, hasil mediasi belum selesai, sebab BPS dan BPJS
Kesehatan belum memberikan penjelasan yang baik. Sebab, pertumbuhan ekonomi
Kabupaten Gresik masih di bawah dari Kota Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto dan
Pasuruan. “Sehingga, jika Gubernur Jawa Timur menetapkan UMK, maka buruh di
Kabupaten Gresik akan jauh di bawah daerah lain,” kata Agus Salim.
Selain itu, pelayanan kesehatan dari BPJS Kesehatan
Kabupaten Gresik yang menghentikan layanan kesehatan di Rumah Sakit Petrokimia
Gresik dan Fatma Medika. “Jika ada rumah sakit yang bermasalah, jangan layanan
kesehatannya yang dihentikan, tapi oknumnya yang dipenjarakan,” katanya.
Begitu juga disampaikan Ketua Federasi Serikat Pekerja Kimia Energi
Pertambangan Minyak Gas Bumi dan Umum (FSPKEP – KSPI) Jawa Timur, Apin Sirait,
mengatakan, Sekber Kabupaten
Gresik memiliki pertumbuhan ekonomi yang kecil dibandingkan Kota dan Kabupaten
sekitar, sehingga mempengaruhi penetapan UMK Kabupaten Gresik tahun 2027.
“Sekber Gresik masih mempunyai PR penetapan UMK Tahun
2027. Sebab, BPS sembarangan dan asal-asalan.membuat data, sehingga BPS Gresik
harus memperbaiki data. BPJS Kesehatan harus meningkatkan pelayanan kesehatan,
sebab masih banyak anggota buruh Gresik yang meninggal dunia akibat pelayanan
rumah sakit yang tidak baik. Pimpinan BPJS Kesehatan untuk mundur dari
jabatannya, jika tidak bisa memperbaiki pelayanan,” kata Apin. (youn).
