Libatkan Ratusan Generasi Z, School Lab Farming Petrokimia Gresik Dongkrak Produktivitas Pertanian Hingga Lima Kali Lipat
![]() |
Foto Dok. PTPG : Petrokimia Gresik memberikan dukungan sarana kepada siswa SMKN 1 Kademangan dalam rangka pelaksanaan School Lab Farming sebagai ruang praktik pertanian modern, Kamis 4 September 2026.
GRESIKNEWS.ID- PT Petrokimia Gresik (PTPG) (Persero), anggota holding PT
Pupuk Indonesia (Persero), membuktikan pertanian modern dapat
menjadi magnet bagi Generasi Z. Melalui program School Lab Farming yang
melibatkan 261 siswa di tiga SMK pertanian Jawa Timur, para siswa menerapkan
pertanian presisi sekaligus mengelola lahan sekolah sebagai ruang belajar,
produksi, dan pengembangan bisnis pertanian.
Hasilnya, produktivitas sejumlah komoditas meningkat
signifikan. Di SMK Negeri 1 Kademangan, Blitar, sebanyak 800 kilogram bawang
merah kering berhasil dipanen dari lahan seluas 1.000 meter persegi. Hasil
tersebut meningkat lebih dari lima kali lipat dibandingkan musim tanam
sebelumnya yang hanya menghasilkan sekitar 150 kilogram dari lahan yang sama.
Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob
menyampaikan bahwa regenerasi petani menjadi tantangan bersama dalam menjaga
keberlanjutan sektor pertanian nasional. Melalui School Lab Farming, Petrokimia
Gresik ingin menghadirkan pengalaman bertani yang lebih dekat dengan karakter
generasi muda, yaitu berbasis teknologi, data, produktivitas dan peluang usaha.
“Melalui School Lab Farming, kami ingin menunjukkan
kepada generasi muda bahwa pertanian saat ini sudah berkembang jauh. Dengan
dukungan teknologi smart farming dan pengelolaan lahan sekolah sebagai teaching
factory yang produktif, siswa tidak hanya belajar bercocok tanam, tetapi juga
memahami bagaimana pertanian dapat dikelola secara modern dan memiliki prospek
usaha yang menjanjikan,” kata Daconi dalam rilis Humas PTPG,
Kamis, 4 September 2026.
Selain bawang merah, ratusan melon juga berhasil
dibudidayakan di dalam green house SMK Negeri 1 Kademangan dengan tingkat
kemanisan mencapai 15 °Brix. Hasil serupa diperoleh di SMK Negeri 8 Jember dan
SMK Muhammadiyah 5 Gresik. Kedua sekolah tersebut membudidayakan varietas melon
berbeda dengan bobot antara 1,2 hingga 2 kilogram dan tingkat kemanisan minimal
15 °Brix.
Menurut Daconi, capaian tersebut menunjukkan bahwa
pertanian dapat semakin menarik bagi Generasi Z ketika dikelola dengan
teknologi dan metode budidaya yang tepat. Siswa dapat melihat secara langsung
hubungan antara penggunaan teknologi, proses produksi, kualitas hasil panen,
hingga nilai ekonomi yang diperoleh.
“Ketika siswa melihat sendiri bahwa lahan yang mereka
kelola mampu menghasilkan produk berkualitas dan memiliki nilai jual, mereka
mendapatkan perspektif baru tentang pertanian. Bukan hanya sebagai aktivitas
budidaya, tetapi sebagai bidang usaha yang membutuhkan teknologi, kemampuan
analisis, dan pengelolaan bisnis,” katanya.
Dalam penerapan pertanian presisi, siswa dibiasakan
bekerja berdasarkan data. Mereka mencatat perkembangan tanaman, kondisi media
tanam, kebutuhan dan dosis pemupukan, hingga hasil produksi melalui matriks
yang terstandar. Dari proses tersebut, siswa belajar menganalisis kondisi
tanaman sekaligus mengambil keputusan budidaya berdasarkan data.
Selain bawang merah dan melon, ketiga sekolah juga
mengembangkan komoditas pendukung seperti buncis dan kembang kol sebagai bagian
dari rotasi tanam. Diversifikasi komoditas tersebut sekaligus memperluas
pengalaman siswa dalam mengelola berbagai jenis usaha pertanian.
School Lab Farming merupakan program Tanggung Jawab
Sosial dan Lingkungan (TJSL) Petrokimia Gresik yang dijalankan dengan kerangka Creating
Shared Value (CSV). Program ini tidak hanya memberikan dukungan sarana
pertanian, tetapi juga mendorong optimalisasi aset sekolah sehingga dapat
dimanfaatkan sebagai ruang praktik sekaligus unit produksi.
Program tersebut merupakan tindak lanjut dari kompetisi
HARVESTION 2025 yang sebelumnya mempertemukan 33 SMK pertanian dari 15
kabupaten/kota di Jawa Timur. Dari kegiatan tersebut, Petrokimia Gresik melihat
bahwa minat generasi muda terhadap sektor pertanian sebenarnya cukup besar,
tetapi belum seluruhnya berkembang menjadi ketertarikan untuk menekuni budidaya
maupun menjadikan pertanian sebagai pilihan profesi dan usaha.
Di sisi lain, sejumlah sekolah masih menghadapi
keterbatasan sarana praktik dan akses terhadap teknologi pertanian modern,
serta adanya kesenjangan antara pembelajaran di kelas dengan kebutuhan dunia
industri. Padahal, banyak sekolah memiliki lahan yang cukup luas dan produktif
untuk dikembangkan sebagai laboratorium praktik sekaligus unit produksi.
“School Lab Farming membuat proses belajar tidak berhenti
pada demonstrasi di lahan. Siswa menjadi pelaku utama dalam seluruh siklus
pertanian, mulai dari perencanaan budidaya, pengelolaan tanaman, pencatatan
data, panen, hingga memahami nilai ekonomi dari produk yang mereka hasilkan,”
ujar Daconi.
Sementara Kepala SMK Negeri 1 Kademangan, Hadi Sucipto,
mengapresiasi program School Lab Farming karena memberikan pengalaman baru bagi
siswa dalam mengenal pertanian berbasis teknologi. Menurutnya, pendekatan
pertanian modern dapat meningkatkan ketertarikan generasi muda karena siswa
tidak hanya mempelajari teknik budidaya, tetapi juga memahami teknologi dan
peluang usaha di sektor pertanian.
“Kami sangat mengapresiasi program ini karena siswa
mendapatkan kesempatan untuk belajar dan mempraktikkan langsung pertanian
modern. Harapannya, pengalaman ini dapat menumbuhkan semakin banyak generasi
muda yang tertarik mengembangkan sektor pertanian sekaligus turut mendukung
terwujudnya pertanian berkelanjutan dan ketahanan pangan nasional,” kata Hadi
Sucipto. (youn).
