Menkeu Bongkar Pemda Parkir Dana Rp 234 Triliun, Rakyat Menjerit Pejabat Nikmati Bunga Bank Gratis

 


Menkeu Bongkar Pemda Parkir Dana Rp 234 Triliun, Rakyat Menjerit Pejabat Nikmati Bunga Bank Gratis

Fenomena dana pemerintah daerah yang mengendap di bank kembali menohok logika publik. Di saat rakyat menghadapi tekanan ekonomi dan harga kebutuhan pokok tidak kunjung turun, dana Pemda mencapai Rp 234 triliun justru “tidur” di perbankan dan menghasilkan bunga bank ratusan miliar rupiah per bulan.

Situasi ini memunculkan ironi: rakyat menjerit, sementara pemerintah daerah secara tak langsung menikmati bunga dari dana yang tidak segera dibelanjakan.

 

Menkeu: Masalahnya Bukan Uang, Tapi Eksekusi yang Lambat

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa serapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) hingga kuartal III-2025 berjalan sangat lambat. Padahal, anggaran dari pemerintah pusat sudah disalurkan tepat waktu.

“Ini bukan soal uangnya tidak ada, tapi soal kecepatan eksekusi. Dana Pemda yang nganggur di bank sampai Rp 234 triliun,” tegas Purbaya dalam rapat pengendalian inflasi di Kemendagri, Jakarta (20/10).

Akibat lambatnya belanja, dana tersebut tidak mengalir ke proyek publik, infrastruktur, bantuan sosial, dan perputaran ekonomi lokal. Sebaliknya, uang itu menghasilkan bunga yang signifikan untuk kas daerah — bukan untuk masyarakat yang membutuhkan perputaran ekonomi cepat.

 

Dampak ke Masyarakat: Proyek Lambat, Harga Sulit Turun

Realisasi belanja APBD hingga September 2025 baru 51,3% dari total pagu. Beberapa pos yang paling mengkhawatirkan:

Akibatnya:

  • pembangunan fisik terhambat,
  • lapangan kerja tidak berkembang,
  • proyek UMKM macet,
  • efek rem ke ekonomi lokal makin terasa.

Rakyat merasakan tekanan ekonomi, sementara dana triliunan yang seharusnya bergerak menyokong pembangunan malah menghasilkan bunga di bank.

 

Rincian 15 Daerah dengan Dana Mengendap Tertinggi & Bunga Bulanan

Total bunga dana mengendap Rp 234 triliun setara:

  • Rp 487 miliar per bulan (deposito rupiah)
  • Rp 780 miliar per bulan (jika dalam USD)

Estimasi bunga per daerah (proporsional):

Daerah

Dana Mengendap (T)

Estimasi Bunga/Bulan (Rp)

Provinsi DKI Jakarta

14,6

30,38 miliar

Provinsi Jawa Timur

6,8

14,15 miliar

Kota Banjarbaru

5,1

10,61 miliar

Provinsi Kalimantan Utara

4,7

9,78 miliar

Provinsi Jawa Barat

4,1

8,53 miliar

Kabupaten Bojonegoro

3,6

7,49 miliar

Kabupaten Kutai Barat

3,2

6,66 miliar

Provinsi Sumatera Utara

3,1

6,45 miliar

Kabupaten Kepulauan Talaud

2,6

5,41 miliar

Kabupaten Mimika

2,4

4,99 miliar

Kabupaten Badung

2,2

4,57 miliar

Kabupaten Tanah Bumbu

2,11

4,39 miliar

Provinsi Bangka Belitung

2,10

4,37 miliar

Provinsi Jawa Tengah

1,9

3,95 miliar

Kabupaten Balangan

1,8

3,74 miliar

 

Fokus Jawa Timur & Bojonegoro: Dampak ke Gresik dan Kawasan Industri

Jawa Timur: Dana Mengendap Rp 6,8 Triliun

Sebagai pusat industri nasional, lambatnya perputaran anggaran Jatim berdampak langsung pada:

  • percepatan infrastruktur yang tersendat,
  • aktivitas pelabuhan & distribusi,
  • geliat UMKM,
  • ruang fiskal kabupaten/kota.

Bojonegoro: Rp 3,6 Triliun Menganggur

Daerah kaya migas ini memiliki kontribusi besar pada jalur ekonomi Tuban–Lamongan–Gresik. Dana besar yang tidak bergerak memperlambat:

  • pembangunan desa,
  • penyerapan tenaga kerja,
  • potensi rantai pasok industri.

Konsekuensinya, wilayah penyangga seperti Gresik turut terdampak oleh melambatnya belanja publik dari daerah sekitar.

 

Penutup: Rakyat Butuh Aksi, Bukan Dana Mengendap

Ketika ekonomi masyarakat sedang sulit, dana daerah yang mengendap hingga ratusan triliun bukan sekadar angka — ini adalah kesempatan pembangunan yang terhenti.

Ironinya jelas terlihat: rakyat berjuang, sementara dana besar di kas Pemda menghasilkan bunga tanpa manfaat langsung bagi masyarakat.

Pemerintah pusat mendesak percepatan belanja produktif agar ekonomi lokal kembali bergerak dan manfaat anggaran benar-benar dirasakan rakyat.

 

Sumber

Next Post Previous Post