Gus Nadir Bicara Konflik, Gus Fik Ungkap Akar Masalahnya: Ego!

 

Gus Nadir

Krisis Internal PBNU Makin Terbuka, Gus Nadir: “Mesin Organisasi Sudah Mati”

Opini: Disharmoni Lahir dari Ego yang Tak Terkendali

GRESIKNEWS.ID– Polemik internal di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) semakin menjadi pembicaraan hangat setelah akademisi NU di Australia, Nadirsyah Hosen (Gus Nadir), mengungkap adanya konflik serius di jajaran pimpinan.

Gus Nadir menilai hubungan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dengan sejumlah pengurus inti seperti Sekjen PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Bendum Gudfan Arif Ghofur, hingga Rais Aam KH Miftachul Akhyar, tidak berjalan harmonis dan sudah berlangsung lama.

“Jam’iyyah ini sedang berjalan terbalik. Ketua Umum berkonflik dengan Sekjen dan Bendum. Ketua Umum juga tidak akur dengan Rais Aam,” tegas Gus Nadir.

Struktur Tidak Sinkron, Surat Tak Lengkap Tanda Tangan

Dampak dari konflik berkepanjangan itu terlihat dari surat-surat resmi PBNU yang tidak memenuhi aturan AD/ART.
Sejumlah surat Syuriyah hanya ditandatangani Rais Aam, sementara surat Tanfidziyah hanya diteken Ketua Umum — tanpa keempat tanda tangan yang seharusnya menjadi syarat sah.

Menurut Gus Nadir, kondisi ini bukan lagi sekadar miskomunikasi, tetapi mencerminkan disfungsi organisasi yang sangat serius.

“Mesin PBNU Sudah Mati”

Gus Nadir menggambarkan PBNU kini seperti mesin yang dibiarkan berkarat dan tidak bergerak.
Jamaah Nahdliyin di akar rumput pun berjalan tanpa arahan yang jelas.

“Roda terkunci mati. Jamaah bergerak tanpa bimbingan PBNU,” ujarnya.

Ia juga mengkritik arah kebijakan PBNU yang dinilai menjauh dari semangat perjuangan NU, mulai dari politik, tambang, hingga tamu-tamu yang dianggap kontroversial.

 

Gus Fik : Konflik Ini Bukan Sekadar Posisi – Ini soal Ego dan Tidak Menyatunya Hati

Disharmoni di PBNU tidak lahir tiba-tiba. Ia tumbuh dari akar yang lebih dalam: ego diri.
Ketika setiap pemangku amanah merasa paling benar, ketika kehendak pribadi mengalahkan musyawarah, ketika jabatan terasa lebih penting daripada persaudaraan organisasi, maka hati-hati tidak lagi menyatu.

Dalam tradisi NU, para kiai selalu mengajarkan bahwa persatuan tidak cukup hanya dengan duduk di meja yang sama. Yang jauh lebih penting adalah ketundukan hati, keikhlasan, dan tawadhu’.

Namun ketika ego meninggi:

  • arahan mudah disalahpahami,
  • perbedaan pandangan berubah menjadi permusuhan,
  • keputusan organisasi tidak lagi berlandaskan maslahat bersama,
  • dan struktur terbelah menjadi kubu-kubu yang saling curiga.

Konflik PBNU hari ini menjadi cermin bahwa sehebat apa pun struktur organisasi, tanpa kesatuan hati, ia akan rapuh.
Di dalam NU ada prinsip tawassuth, tawazun, tasamuh, dan ta’adul — nilai yang seharusnya melembutkan ego. Tetapi ketika nilai-nilai itu tidak lagi menjadi pegangan, maka AD/ART pun tak lebih dari dokumen mati, seperti yang dikatakan Gus Nadir.

NU adalah rumah besar, dan rumah hanya akan kokoh jika para penghuninya menjaga kerendahan hati. Kendalikan hubbud dunya.
Karena itu, solusi dari krisis ini bukan sekadar rapat atau pertemuan formal.
Yang lebih dibutuhkan adalah merendahkan ego, membuka pintu dialog, dan kembali menyatukan niat bahwa semua yang dilakukan adalah untuk maslahat jamaah, bukan untuk kemenangan pribadi.

 


Next Post Previous Post