Dari Konsumsi Pasif Menuju Ko-Kreasi Global: Mengawinkan Gelombang Korea (Hallyu) dan Kekayaan Kultural Nusantara
Rachmad Rofik.
Mahasiswa S1 Ilmu Politik. Universitas Sunan Gresik
Dunia
kontemporer menyaksikan pergeseran radikal dalam instrumen kekuatan nasional.
Kekuatan suatu bangsa tidak lagi semata diukur dari jumlah hulu ledak militer
atau surplus neraca perdagangan, melainkan dari daya pikat budaya (soft
power) dan kemampuan mengonversi narasi kebudayaan menjadi nilai tambah
ekonomi kreatif global. Dalam arena ini, Republik Korea telah menorehkan
fenomena sosiologis terpenting abad ke-21 melalui Gelombang Korea (Hallyu)—mengubah
musik pop, drama sinematik, gim digital, tata rias, dan kuliner menjadi
ekosistem industri bernilai ratusan miliar dolar AS.
Di Indonesia,
penetrasi budaya populer Korea Selatan telah merasuk ke denyut keseharian
generasi muda. Namun, relasi kultural yang terbangun selama dua dekade terakhir
masih cenderung asimetris: Indonesia lebih banyak berperan sebagai pasar
konsumen terbesar produk budaya pop Korea di Asia Tenggara.
Ketika status
bilateral dinaikkan menjadi Special Comprehensive Strategic Partnership (SCSP)
pasca-kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Seoul, diplomasi kebudayaan kedua
negara harus direvolusi. Narasi hubungan bilateral harus bergeser dari pola
konsumsi sepihak menjadi panggung "ko-kreasi kebudayaan global".
Indonesia, dengan mosaik lebih dari 1.300 suku bangsa, mitologi lokal yang
kaya, dan khazanah seni adiluhung, memiliki materi dasar kultural tak terbatas
yang menunggu sentuhan orkestrasi industri kreatif berkelas dunia.
Industrialisasi Seni dan Transfer Manajemen Manajemen Kekayaan
Intelektual (IP)
Keunggulan
ekosistem industri kreatif Korea Selatan di bawah pembinaan Korea Creative
Content Agency (KOCCA) terletak pada rantai nilai kekayaan intelektual (Intellectual
Property/IP chain) yang sangat matang. Sebuah cerita di platform komik
digital (webtoon) dapat diadaptasi menjadi serial drama berperingkat
tinggi, film layar lebar internasional, cinderamata resmi, hingga gim
interaktif.
Di bawah
kerangka SCSP, Kementerian Ekonomi Kreatif RI dan Kementerian Kebudayaan,
Olahraga, dan Pariwisata Korea (MCST) perlu mendirikan Indonesia–Korea
Creative IP Incubation Center di Jakarta dan Denpasar. Melalui inkubator
ini, para kreator naskah, animator, dan ilustrator muda Indonesia dibimbing
secara intensif oleh produser dan sutradara terkemuka dari agensi kreatif Korea
(seperti CJ ENM, Kakao Entertainment, atau Studio Dragon).
Kolaborasi ini
difokuskan pada pengolahan epos dan cerita rakyat Nusantara—seperti legenda
maritim, mitologi pewayangan, hingga kearifan lokal keragaman hayati hutan
tropis—menjadi serial animasi 3D dan film berformat internasional. Skema ini
menciptakan model bisnis baru: konten kreatif diproduksi bersama dengan
pendanaan campuran (co-production), digarap oleh talenta lokal, namun
didistribusikan melalui jaringan distribusi global yang telah dikuasai agensi
Korea.
Sinergi Kosmetik Hayati Tropis dan K-Beauty: Industri Bahan Baku
Alami
Di ranah
kosmetik dan perawatan tubuh, tren K-Beauty mendominasi pasar retail
Indonesia. Kendati demikian, industri kosmetik Korea menghadapi tantangan
kejenuhan formula dan peningkatan permintaan global terhadap bahan baku alami
berbasis ramah lingkungan, halal, dan berkelanjutan.
Indonesia
memiliki hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia dengan ribuan spesies
tanaman obat dan atsiri yang belum terutilisasi maksimal (mega-biodiversity).
Kerangka SCSP membuka ruang kerja sama industri farmasi dan kecantikan antara
perusahaan kosmetik raksasa Korea (seperti Amorepacific dan Kolmar Korea)
dengan laboratorium riset tanaman herbal di Indonesia (seperti di Universitas
Indonesia, ITB, dan BRIN).
Kerja sama ini
diarahkan pada hilirisasi bahan baku kosmetik aktif:
- Ekstraksi senyawa aktif minyak atsiri
nilam, temu kunci, pegagan, dan getah damar Indonesia untuk dijadikan
bahan baku paten produk kosmetik global.
- Pembangunan pabrik pengolahan bahan baku
kosmetik bersertifikat halal internasional di Indonesia, sehingga produk
kecantikan hasil kolaborasi kedua negara dapat langsung mengekspor
produknya ke pasar negara-negara mayoritas Muslim di Asia Selatan dan Timur
Tengah.
Diplomasi Gastronomi: Konvergensi Kuliner Nusantara dan Hansik
Pilar ekonomi
kreatif ketiga yang sangat menjanjikan adalah diplomasi gastro (gastrodiplomacy).
Korea Selatan telah sukses menginternasionalkan Hansik (seperti kimchi,
bulgogi, dan tteokbokki) sebagai simbol gaya hidup sehat dan modern. Di sisi
lain, rempah-rempah Indonesia—pala, cengkeh, lada, dan kayu manis—adalah
komoditas yang mengubah sejarah navigasi perdagangan dunia.
Melalui program
SCSP, asosiasi chef profesional kedua negara dapat memfasilitasi gerakan K-Indo
Culinary Fusion and Spice Route Revival. Restoran dan industri pengolahan
pangan di Seoul didorong mengadopsi pasta rempah khas Nusantara untuk menu-menu
fusi modern. Kerja sama ini diperluas pada sertifikasi halal produk makanan
olahan Korea di Indonesia melalui kerja sama antara Badan Penyelenggara Jaminan
Produk Halal (BPJPH) dan Korea Muslim Federation (KMF), menciptakan
keterbukaan pasar dua arah yang saling menguntungkan.
Kebudayaan
bukanlah komoditas statis yang hanya disimpan di etalase museum. Melalui
kemitraan strategis yang setara dan berwawasan masa depan, kekayaan kebudayaan
Nusantara dan kedalaman rekayasa kreatif Korea Selatan dapat dipadukan menjadi
kekuatan lunak (soft power) baru di pentas global—membuktikan bahwa
kolaborasi lintas peradaban mampu menghasilkan kemakmuran ekonomi kreatif yang
inklusif menuju 2045.
Catatan Kaki / Rujukan:
- Korea Creative Content Agency (KOCCA).
(2025). White Paper on the Global Hallyu Phenomenon: Cross-Border
Intellectual Property Co-Creation and Digital Content Expansion. Naju:
KOCCA.
- Kementerian Ekonomi Kreatif / Badan
Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. (2025). Rencana Induk Pengembangan
Ekonomi Kreatif Nasional: Penguatan Ekosistem IP dan Komersialisasi Budaya
Lokal. Jakarta.
- Kementerian Perindustrian Republik
Indonesia. (2024). Kajian Potensi Hilirisasi Tanaman Atsiri dan Bahan
Aktif Alami Tropis untuk Industri Kosmetik dan Farmasi Nasional.
Jakarta: Ditjen IKMA.
- UNESCO. (2024). Global Report on
Cultural Policies and Sustainable Development: Fostering Resilient
Creative Economies through Bilateral Partnerships. Paris: UNESCO
Publishing.
