Kurikulum Merdeka, Kelas Merdeka: Ketika Adaptive Learning dan AI Jadi Senjata Kemandirian
![]() |
| Desain ilustrasi penggunaan AI, Selasa, 22 September 2026. |
Kurikulum Merdeka, Kelas Merdeka: Ketika Adaptive Learning dan AI Jadi Senjata Kemandirian
Oleh Muchamad Arif, M.Pd., Prof. Dr. Bachtiar Syaiful Bachri, M.Pd., Dr. Lamijan Hadi
Susarno, M.Pd.
Muchamad Arif, Mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan
Universitas Negeri Surabaya
Beberapa waktu lalu saya bertanya kepada anak saya yang
duduk di kelas 5 SD, "Kalau kamu dan teman-temanmu kesulitan mengerjakan
tugas, kamu tanya siapa?," Jawabannya bukan guru, melainkan,
"ChatGPT, Ayah,".
Kita bisa saja panik. Namun, inilah realitas yang harus
dijawab oleh Kurikulum Merdeka.
Kebebasan yang Membutuhkan Alat
Kurikulum Merdeka memberi kebebasan yang luar biasa. Guru
bebas merancang pembelajaran sesuai fase. Siswa bebas menjelajahi minat lewat
Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dan asesmen tidak lagi mengejar
nilai semata, melainkan kompetensi .
Masalahnya, kebebasan tanpa alat yang tepat justru
membuat guru kewalahan. Bagaimana melayani 30 siswa dengan minat dan kemampuan
berbeda dalam satu kelas?.
"Di sinilah adaptive learning menjadi penerjemah yang ideal," kata Muchamad Arif, M.Pd., dalam opininya, Selasa, 22 September 2026.
Filosofi dan Mesinnya
Begitu juga dalam pandangan Prof. Dr. Bachtiar Syaiful Bachri, M.Pd., jika Kurikulum Merdeka adalah filosofinya, adaptive learning adalah mesinnya.
Kelas Merdeka menuntut pembelajaran berdiferensiasi dan adaptive learning mewujudkannya secara nyata. Sistem ini menyesuaikan materi, tingkat kesulitan dan kecepatan belajar dengan kemampuan tiap siswa.
Studi perbandingan menunjukkan, sistem adaptif dapat
memberi hasil belajar yang baik dibandingkan pembelajaran konvensional yang
dipimpin guru. “Siswa yang masih di fase dasar memperoleh scaffolding visual,
sedangkan yang sudah mahir langsung ditantang dengan soal HOTS. Ini sejalan
dengan prinsip pembelajaran berpusat pada siswa, bukan pada buku paket,” kata Prof. Dr. Bachtiar Syaiful Bachri, M.Pd.
Lebih lanjut Prof. Dr. Bachtiar mencontohkan, bahwa dulu adaptive
learning identik dengan server mahal. Kini generative AI membuatnya
lebih murah dan lebih mungkin diwujudkan.
Dari Tanda Silang ke Umpan Balik yang Membangun
Prof. Dr. Bachtiar juga mempunyai pandangan dalam skenario Modul Ajar. Seorang anak keliru mengerjakan soal literasi numerasi.
Ia tidak menerima tanda silang merah, melainkan respons AI: "Hampir benar. Coba cek lagi, satuan yang kamu pakai kilogram atau gram ya?,”. Umpan baliknya instan, personal dan tidak menghakimi. “Inilah esensi asesmen formatif yang ditekankan Kurikulum Merdeka,” kata Prof. Dr. Bachtiar.
Di titik itulah kemandirian dan Profil Pelajar Pancasila tumbuh. Sikap mandiri, bernalar kritis dan kreatif tidak lahir dari ceramah, tetapi dari proses ketika siswa tahu di mana letak kesalahannya dan berani mencoba lagi.
Kajian terkini menunjukkan tutor AI yang dirancang berdasarkan prinsip pedagogi dapat meningkatkan capaian belajar. “Generative AI dapat berperan sebagai tutor personal yang sabar. Misalnya, mengubah soal matematika menjadi konteks jajanan pasar atau sepak bola yang dekat dengan dunia anak,” katanya.
Tiga Catatan agar Selaras dengan Kurikulum
Dalam pandangan Dr. Lamijan Hadi Susarno, M.Pd.
Pertama, AI adalah mitra Projek P5, bukan pengganti
nalar. AI membantu diagnosis belajar, sedangkan pembentukan
karakter dan nilai tetap berada di tangan guru.
Kedua, guru naik kelas dari pengajar menjadi desainer
pengalaman belajar. Guru hebat di era AI bukan yang paling hafal materi,
melainkan yang paling paham kapan siswa membutuhkan bantuan AI dan kapan
membutuhkan sentuhan empati .
Ketiga, konteks lokal. Adaptive learning yang efektif bukan yang soalnya diimpor, melainkan yang mengangkat persoalan dari lingkungan anak. Inilah ruh Realistic Mathematics Education yang sudah lama kita kenal lewat PMRI dan kini hidup kembali dalam Kurikulum Merdeka.
Mulai dari yang Sederhana
Kita tidak perlu menunggu teknologi yang serba canggih untuk memulai kelas Merdeka yang sesungguhnya. Mulailah dari tiga soal diagnostik di awal pembelajaran untuk memetakan fase siswa, lalu berikan jalur belajar yang berbeda.
“Jika kita melarang AI, siswa tetap akan memakainya
secara diam-diam. Jika kita mengajaknya masuk sebagai mitra Kurikulum Merdeka,
kita sedang mengajarkan keterampilan terpenting: belajar bagaimana cara belajar
secara mandiri,” kata
Daftar Pustaka Opini :
- Holmes, W., & Tuomi, I. (2022). State of the art and practice in
AI in education. European Journal of Education, 57(4), 542–570.
- Kasneci, E., Sessler, K., Küchemann, S., et al. (2023). ChatGPT for
good? On opportunities and challenges of large language models for
education. Learning and Individual Differences, 103, 102274.
- Kemendikbudristek. (2022). Panduan pembelajaran dan asesmen
pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan.
- Kestin, G., Miller, K., Klales, A., Milbourne, T., & Ponti, G.
(2025). AI tutoring outperforms in-class active learning: An RCT
introducing a novel research-based design in an authentic educational
setting. Scientific Reports, 15, 17458.
- UNESCO. (2023). Guidance for generative AI in education and
research. UNESCO.
- Wang, S., Christensen, C., Cui, W., Tong, R., Yarnall, L., Shear, L., & Feng, M. (2023). When adaptive learning is effective learning: Comparison of an adaptive learning system to teacher-led instruction. Interactive Learning Environments, 31(2), 793–803.
- Zulkardi, Putri, R. I. I., & Wijaya, A. (2020). Two decades of realistic mathematics education in Indonesia. Dalam M. van den Heuvel-Panhuizen (Ed.), International reflections on the Netherlands didactics of mathematics (hlm. 325–340). Springer. (youn).
