Dosen Universitas Sunan Gresik Gelar Pengabdian Masyarakat, Tingkatkan Literasi Fikih Wanita Santriwati Pondok Pesantren Al-Barokah Malang
![]() |
| Kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Pondok Pesantren Al-Barokah Kota Malang, Jumat, 8 Mei 2026. |
GRESIKNEWS.ID - Dosen Universitas Sunan Gresik (USG) melaksanakan pengabdian kepada masyarakat di Pondok Pesantren Al-Barokah Kota Malang, Jumat, 8 Mei 2026. Kegiatan tersebut diharapkan bisa meningkatkan pengetahuan santriwati tentang fikih wanita.
Kegiatan tersebut bertajuk “Peningkatan Literasi Fikih Wanita sebagai Bekal Membangun Keluarga Sakinah pada Santriwati Pondok Pesantren Al-Barokah Kota Malang.
Tim pengabdian yang diketuai oleh Hikmiyyah, S.Sy., M.H., bersama Isyroqotun Nashoiha, S.Ag., M.Ag., Khusnul Amalia, S.H., M.H., dan Doni Kusnadi, melaksanakan program selama dua bulan dengan melibatkan puluhan santriwati berusia 18 sampai 25 tahun.
Kegiatan ini dilatarbelakangi hasil observasi yang menunjukkan, masih adanya kesenjangan pemahaman santriwati terkait tata cara bersuci, pelaksanaan ibadah, serta persoalan fikih kewanitaan seperti haid, nifas, wiladah dan istihadhah.
” Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman santriwati mengenai fikih ibadah dan fikih kewanitaan. Hal ini sebagai bekal menjalani kehidupan berkeluarga di masa depan," kata Hikmiyyah, S.Sy., M.H.
Lebih lanjut Hikmiyyah, menambahkan, pemahaman fikih wanita memiliki peran penting dalam membentuk kesiapan spiritual dan mental perempuan sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.
“Perempuan tidak hanya berperan sebagai individu yang menjalankan ibadah, tetapi juga sebagai pendidik pertama dalam keluarga. Oleh karena itu, pemahaman fikih yang benar menjadi bekal penting untuk mewujudkan keluarga yang sakinah dan maslahat,” imbuhnya.
Menurut Hikmiyyah, program pengabdian masyarakat dilaksanakan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang dipadukan dengan model pembelajaran Literasi-Konstruktivisme (LIT-CON Model). Materi yang diberikan meliputi fikih thaharah, fikih ibadah, serta fikih kewanitaan.
"Melalui pendekatan ini, peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga diajak berdiskusi, menganalisis kasus dan melakukan simulasi praktik ibadah yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari," katanya.
Melalui kegiatan ini, Universitas Sunan Gresik menunjukkan komitmennya dalam menjalankan tri dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, dengan menghadirkan program yang memberikan manfaat nyata bagi penguatan kapasitas perempuan muda di lingkungan pesantren.
"Diharapkan model pembelajaran yang diterapkan dapat direplikasi di pesantren lain untuk mendukung lahirnya generasi perempuan muslim yang berilmu, berdaya, dan siap membangun keluarga sakinah di masa depan," katanya.
Dalam sesi fikih thaharah, peserta memperoleh pemahaman mengenai tata cara menyucikan najis, berwudhu, dan mandi wajib.
Sementara itu, pada sesi fikih kewanitaan, peserta mempelajari cara membedakan darah haid, nifas, wiladah dan istihadhah beserta implikasi hukumnya terhadap pelaksanaan ibadah.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman yang signifikan setelah program dilaksanakan. Selain itu, kesenjangan pemahaman antara santriwati berlatar belakang pesantren dan non-pesantren juga berhasil diperkecil.
"Kemampuan peserta dalam membedakan jenis darah kewanitaan, pengetahuan mengenai perhitungan masa haid, dan ketepatan praktik bersuci dan shalat meningkat pesat," katanya.
Sementara Pengasuh Pondok Pesantren Al-Barokah menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, program ini mampu melengkapi kebutuhan pembelajaran santriwati yang selama ini lebih banyak berfokus pada tahfiz Al-Qur’an.
Materi fikih kewanitaan dinilai sangat relevan, karena berkaitan langsung dengan praktik ibadah dan kehidupan sehari-hari para santriwati.
Selain meningkatkan literasi keagamaan, kegiatan ini juga mendorong lahirnya kader-kader santriwati yang mampu menjadi agen edukasi bagi teman sebaya.
"Beberapa peserta mulai aktif membantu menjelaskan persoalan fikih kewanitaan kepada rekan-rekannya, sehingga manfaat program dapat terus berlanjut meskipun kegiatan telah selesai dilaksanakan," kata Pengasuh Ponpes. (Youn).
