Sekda Gresik Washil Dukung Pemuda Lestarikan Identitas Daerah Melalui Festival Budaya Pleretan Sukorame
Fodo Dok. Kominfo Gresik : Festival Budaya Pleretan Sukorame Gresik, yang dibuka Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Gresik, Achmad Washil Miftahul Rachman, Sabtu, 12 September 2026.
GRESIKNEWS.ID
- Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Gresik, Achmad Washil Miftahul Rachman
terus mendorong generasi muda terus menumbuhkan tradisi dan kebudayaan lokal
sebagai bagian dari identitas daerah. Salah satunya Festival Budaya Pleretan
yang digelar warga Kelurahan Sukorame, Kecamatan Gresik, Sabtu, 12 September 2026.
Festival
Budaya Pleretan yang dipusatkan di halaman SMA Nahdlatul Ulama (NU) 2 Gresik
tersebut mengusung tema ‘Harmoni Budaya, Generasi Berdaya’ ini berlangsung
meriah. Ratusan warga Kelurahan Sukorame mengiringi gunungan tumpeng pleret
yang diarak keliling dengan lantunan selawat yang menggema sepanjang jalan
menambah kekhusyukan acara, sekaligus menegaskan identitas Gresik sebagai Kota
Santri yang kaya akan tradisi Islam.
"Festival
Budaya Pleretan mencerminkan kerukunan warga sekaligus mengingatkan pentingnya
estafet bagi generasi muda agar lebih mengenal, mencintai, menjaga eksistensi
dan melestarikan warisan leluhur di tengah gempuran modernisasi," kata Sekda
Achmad Washil.
Pihaknya
mengatakan, keguyuban warga merupakan modal sosial yang sangat berharga dalam
pembangunan daerah. Menurutnya, Festival Budaya Pleretan yang menampilkan
berbagai tradisi lokal ini dinilai sukses menjadi pemersatu sekaligus penguat
identitas warga Sukorame. Antusiasme masyarakat yang bergotong-royong
menyelenggarakan acara ini membuktikan bahwa nilai-nilai kebersamaan masih
tertanam kuat.
"Saya
sangat mengapresiasi Festival Budaya Pleretan ini. Karena ini adalah bukti
nyata bahwa masyarakatnya sangat guyub rukun, kompak, dan memiliki kepedulian
yang tinggi terhadap warisan leluhur," ujar Achmad Washil.
Meski
demikian, Washil mengingatkan kembali bahwa tantangan terbesar dari pelestarian
budaya di era modern adalah regenerasi. Ia menekankan bahwa keindahan tradisi
ini tidak akan bertahan lama jika tidak ada ketertarikan dari kelompok usia
muda untuk mempelajari dan meneruskannya.
Oleh
karena itu, Pemkab Gresik mendorong tokoh masyarakat dan para orang tua agar
terus melibatkan anak-anak muda dalam setiap kegiatan adat. Langkah ini penting
agar tongkat estafet kebudayaan tetap berjalan beriringan dengan perkembangan
zaman.
"Budaya
lokal seperti ini harus terus ada generasi yang melanjutkan. Jangan sampai
berhenti di kita. Anak-anak muda harus bangga dan mengambil peran agar tradisi
Festival Budaya Pleretan ini tetap lestari di masa depan," pungkasnya.
Di
tempat yang sama, kehadiran tokoh budaya sekaligus Ketua Yayasan Mataseger,
Kris Adji, memberikan warna tersendiri dalam acara ini. Dalam pandangannya,
kegiatan berbasis kearifan lokal seperti ini memiliki peran krusial di era
modern. Ia berharap, kegiatan yang bersifat lokal ini nantinya bisa menjadi
pegangan kuat bagi masyarakat, terutama di tengah-tengah generasi milenial yang
menghadapi gempuran budaya luar.
Lebih
lanjut, Kris Adji juga membedah filosofi mendalam di balik budaya pleret. Ia
mengisahkan bahwa kawasan di sepanjang jalan tempat festival ini digelar
dulunya merupakan hamparan sawah. Bagi orang Jawa, beras bukan sekadar pangan,
melainkan lambang kehidupan dan kemakmuran.
"Bahan
utama pleret adalah beras. Ini menggambarkan pesan mendalam bahwa manusia tidak
boleh menerima begitu saja, tetapi bagaimana kita mensyukuri apa yang diberikan
Allah Swt. sebagai suatu keberkahan, lalu mengolahnya dengan baik, salah
satunya menjadi kue pleret ini," ujar Kris Adji.
Kris
Adji menambahkan bahwa Pleret memiliki simbol-simbol luhur yang diwariskan
leluhur. Tepung beras sebagai bahan utama melambangkan penghormatan kepada Dewi
Sri, sedangkan warna-warni Pleret merepresentasikan kehidupan yang beragam dan
penuh toleransi.
"Simbol-simbol
inilah yang harus kita pegang teguh sebagai pendidikan karakter bagi generasi
muda," tandasnya.
Festival
Budaya Pleretan sendiri merupakan tradisi syukuran masyarakat Sukorame yang
juga digelar untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Dengan dihidupkannya
kembali tradisi ini, Pemkab Gresik berharap masyarakat semakin mencintai
sekaligus melestarikan budayanya.
Festival
Budaya Pleretan semakin meriah dengan beragam penampilan, mulai dari kirab
Pleret sebagai acara utama, pentas seni Tarian Pleretan, Musik Patrol, Fashion
Show Batik Bunga Pleretan, bazar UMKM, hingga permainan tradisional.
Kegiatan
ini turut dihadiri Wakil Ketua Komisi I DPRD Gresik, Elvita Yuliati, Camat
Gresik, Jalesvi Triyatmoko, Lurah Sukorame Nikmatul Akhiroh, Ketua Rumah Kreasi
Damar Kurung Muhammad Anhar, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga Kelurahan
Sukorame. (youn).
