Bedah Buku di KPU Gresik, Makmun: Demokrasi Sehat Bukan Hanya Memilih, tetapi Menghadirkan Kompetisi Gagasan
![]() |
| Kegiatan bedah buku di Kantor KPU Kabupaten Gresik, Kamis, 20 Agustus 2026. |
GRESIKNEWS.ID - Demokrasi yang sehat tidak cukup dimaknai sebagai proses
memilih pemimpin melalui pencoblosan. Lebih dari itu, demokrasi membutuhkan
kompetisi gagasan serta ruang bagi masyarakat untuk menentukan pilihan yang
benar-benar bermakna.
Hal tersebut disampaikan Makmun, M.Ag., Sekretaris Umum Majelis Ulama
Indonesia (MUI) Kabupaten Gresik sekaligus Anggota KPU Gresik Periode
2014–2024, dalam kegiatan Bedah Buku bertema “Memperkuat Demokrasi,
Mencerdaskan Pemilu” yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Gresik
di Kantor KPU Gresik, Kamis, 20 Agustus 2026.
Dalam kegiatan tersebut, Makmun membedah dua buku yang berkaitan dengan
dinamika pemilihan umum dan demokrasi. Buku pertama berjudul Pemilihan Calon
Tunggal Kepala Daerah karya Utang Rosidin dkk.
Menurut Makmun, fenomena calon tunggal perlu dilihat lebih jauh, bukan
hanya dari aspek legalitasnya. Secara hukum, pemilihan dengan satu pasangan
calon dapat dinyatakan sah. Namun, dari perspektif demokrasi, masih terdapat
pertanyaan yang perlu didiskusikan.
“Apakah pemilihan yang hanya menghadirkan satu pasangan calon masih dapat
disebut sebagai kompetisi demokratis?” ujarnya.
Ia menjelaskan, demokrasi pada dasarnya bukan sekadar menyediakan surat
suara dan memberikan pilihan setuju atau tidak setuju. Demokrasi yang sehat
juga membutuhkan kompetisi ide dan gagasan sehingga masyarakat memiliki pilihan
yang bermakna.
“Setuju versus tidak setuju itu demokrasi prosedural. Gagasan A versus
gagasan B adalah pilihan yang bermakna,” jelasnya.
Makmun menilai, calon tunggal tidak selalu menjadi persoalan utama dalam
demokrasi lokal. Fenomena tersebut bisa menjadi gejala dari persoalan yang
lebih dalam, terutama ketika ruang kompetisi gagasan dan kontrol terhadap
kekuasaan menjadi terbatas.
Dalam sistem demokrasi yang sehat, lanjutnya, pihak yang memenangkan
kontestasi menjalankan ide dan gagasannya, sedangkan pihak yang kalah tetap
memiliki ruang untuk melakukan kontrol atau menjadi oposisi.
“Seperti yang ada di Gresik ini, minim ruang kontrol kekuasaan karena
memang hanya ada satu pasangan calon. Apakah tidak ada oposisi? Jawabannya ada.
Namun, ada ruang kosong secara formal yang tidak ada, meskipun secara hukum ini
sah dan legal,” ungkapnya.
Karena itu, tantangan demokrasi ke depan bukan sekadar memastikan proses
pemilihan tetap berlangsung, tetapi membangun sistem politik yang mampu
menghadirkan kompetisi secara sehat sehingga calon tunggal semakin tidak
diperlukan.
Pada sesi berikutnya, Makmun membahas buku kedua berjudul Pemungutan,
Penghitungan dan Rekapitulasi dalam Pemilu: Seri Filsafat Pemilu karya Prof.
Dr. Teguh Prasetyo, S.H., M.Si.
Ia mengajak peserta melihat perjalanan suara rakyat sejak berada di tempat
pemungutan suara hingga menjadi legitimasi kekuasaan.
“Kapan suara rakyat benar-benar menjadi kekuasaan?” tanyanya.
Menurutnya, suara rakyat memiliki perjalanan panjang. Pemilih menentukan
pilihan di bilik suara, suara kemudian dihitung menjadi angka, direkapitulasi,
hingga akhirnya ditetapkan menjadi mandat politik.
Dari proses tersebut, ia menggambarkan pemilu sebagai perjalanan “dari
ballot box menuju kedaulatan rakyat.”
Makmun membedakan antara bullet box dan ballot box. Bullet box
menggambarkan perebutan kekuasaan melalui kekuatan, sedangkan ballot box
menunjukkan bahwa kekuasaan diperebutkan melalui suara rakyat.
“Karena kotak suara bukan sekadar benda. Yang dijaga adalah kedaulatan yang
berada di dalamnya,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa integritas pemilu tidak cukup hanya dengan
pernyataan bahwa prosesnya jujur. Kejujuran tersebut harus dapat dibuktikan
melalui proses yang transparan dan dapat diperiksa oleh masyarakat.
“Pemilu tidak cukup hanya jujur. Pemilu harus dapat dibuktikan jujur,”
katanya.
Menurut Makmun, menjaga suara rakyat pada hakikatnya bukan hanya menjaga
angka hasil penghitungan. Lebih jauh, hal itu merupakan upaya menjaga
kepercayaan masyarakat terhadap demokrasi.
"Rakyat harus dapat merasakan bahwa suara mereka benar-benar dihormati
melalui proses yang dapat dilihat, hasil yang dapat diperiksa, dan keputusan
yang pada akhirnya dapat dipercaya," pungkasnya.
Kegiatan bedah buku tersebut turut dihadiri Anggota KPU Kabupaten Gresik
Ahmad Bashiron, serta Andri Agus Susilo. (youn).
