Tingkatkan Kesadaran Pencegahan Stunting melalui Literasi Keuangan dan Gizi, Universitas Sunan Gresik Gelar Workshop Keluarga Sehat di Sidoarjo
![]() |
| Foto dok Panitia : Kegiatan Workshop Keluarga Sehat yang diselenggarakan oleh Dosen dan Mahasiswa Universitas Sunan Gresik di Balai Desa Prasung, Kabupaten Sidoarjo, 23 April 2026. |
GRESIKNEWS.ID - Upaya pencegahan stunting tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi anak, tetapi juga dipengaruhi oleh kemampuan keluarga dalam mengelola keuangan rumah tangga.
Kesadaran tersebut menjadi dasar kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk Workshop Keluarga Sehat yang diselenggarakan oleh Dosen dan Mahasiswa Universitas Sunan Gresik di Balai Desa Prasung, Kabupaten Sidoarjo, pada 23 April 2026.
Kegiatan ini mengintegrasikan edukasi literasi keuangan syariah dengan pemilihan pangan bergizi sebagai strategi preventif untuk menekan risiko stunting di tingkat keluarga dan komunitas.
Program tersebut melibatkan 30 peserta yang mayoritas ibu rumah tangga anggota Lingkaran Penggerak Ekonomi Sidoarjo (LIPEKSI).
Berdasarkan identifikasi awal tim pengabdian, sebagian besar peserta menghadapi tantangan ekonomi berupa pendapatan yang tidak tetap dan ketergantungan pada sektor informal. Kondisi tersebut berdampak pada pola konsumsi keluarga yang lebih menitikberatkan pada kuantitas pangan dibanding kualitas gizinya.
Ketua tim pengabdian, Lidia Aditama Putri, mengatakan, pendekatan edukasi yang digunakan dirancang secara integratif, karena masalah stunting bersifat multidimensional.
“Pencegahan stunting tidak cukup hanya dengan penyuluhan gizi. Keluarga juga perlu dibekali kemampuan mengelola anggaran rumah tangga agar dapat memprioritaskan kebutuhan pangan sehat secara berkelanjutan,” kata Lidia Aditama Putri.
Kegiatan workshop dilaksanakan melalui metode partisipatif yang meliputi sosialisasi, pelatihan interaktif, praktik penyusunan anggaran rumah tangga, serta edukasi pemilihan pangan sehat dengan biaya terjangkau.
Pada sesi literasi keuangan syariah, peserta memperoleh pemahaman mengenai prinsip pengelolaan keuangan keluarga, penyusunan prioritas kebutuhan, hingga penghindaran perilaku konsumtif.
Sementara itu, pada sesi pemilihan pangan bergizi, peserta diajak mengenali sumber pangan sehat yang ekonomis dan mudah diperoleh di lingkungan sekitar.
"Evaluasi kegiatan dilakukan menggunakan metode pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta sebelum dan sesudah pelatihan," katanya.
Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan pada kedua aspek yang menjadi fokus kegiatan. Pada literasi keuangan syariah, peserta dengan kategori pengetahuan baik meningkat dari 3,3 persen menjadi 96,7 persen. Sementara pada aspek pemilihan pangan bergizi, kategori pengetahuan baik meningkat dari 10 persen menjadi 96,7 persen.
Selain peningkatan kategori pengetahuan, rata-rata skor peserta juga mengalami kenaikan. Nilai rata-rata literasi keuangan syariah meningkat dari 0,93 menjadi 1,97, sedangkan skor pemilihan pangan bergizi naik dari 1,07 menjadi 1,97. "Hasil tersebut menunjukkan bahwa pendekatan edukasi terpadu mampu meningkatkan pemahaman peserta secara efektif sekaligus memberikan pengalaman belajar yang lebih aplikatif," imbuhnya.
Tim pengabdian menilai bahwa integrasi edukasi keuangan dan gizi menjadi pendekatan yang relevan, khususnya bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
Pengetahuan tentang pangan sehat dinilai belum cukup apabila keluarga belum memiliki kemampuan dalam mengatur pengeluaran rumah tangga secara tepat. Oleh karena itu, kombinasi kedua aspek tersebut diharapkan dapat membantu keluarga menyusun prioritas belanja yang lebih sehat dan terencana.
Melalui kegiatan ini, Universitas Sunan Gresik berharap, tercipta penguatan kapasitas keluarga dalam mendukung pencegahan stunting berbasis komunitas. Program serupa juga direncanakan untuk dikembangkan melalui pendampingan berkelanjutan agar perubahan pengetahuan dapat diimplementasikan dalam perilaku sehari-hari.
Kegiatan pengabdian ini sekaligus mempertegas pentingnya kolaborasi antara institusi pendidikan, komunitas masyarakat, dan keluarga dalam membangun ketahanan kesehatan masyarakat. "Dengan pendekatan yang kontekstual dan aplikatif, upaya pencegahan stunting, diharapkan tidak hanya berorientasi pada intervensi kesehatan semata, tetapi juga pada penguatan kualitas pengambilan keputusan dalam rumah tangga," katanya. (Youn).
